Detail Berita

SELEKSI WAWANCARA CALON PUTRA PUTRI SMAN 2 SKANTO PERIODE 2025-2026

Senin, 2 Februari 2026 13:50 WIB
3 |   -

Senin, 02 Februari 2026, Oleh Fajarwati. Siang ini, bertempat di ruangan guru dilaksanakan seleksi pemilihan putra putri SMAN 2 Skanto tahap kedua yakni sesi wawancara. Seleksi yang diikuti oleh 33 peserta didik dari jenjang kelas X dan XI mendapatkan respon dan antusias yang postif dengan tema "Menelusuri Jejak Intelektualitas dan Karakter dalam Pemilihan Putra Putri SMANDA Skanto"

Setiap tahun, koridor sekolah kita tidak hanya dipenuhi oleh hiruk-pikuk persiapan ujian atau turnamen olahraga. Ada satu momen di mana atmosfer sekolah berubah menjadi lebih elegan, kompetitif, namun penuh dengan semangat kolaborasi. Ajang Pemilihan Putra Putri Sekolah sering kali disalahpahami oleh sebagian orang sebagai kontes kecantikan belaka. Namun, jika kita menyelami lebih dalam, kita akan menemukan sebuah proses inkubasi kepemimpinan yang luar biasa intens.

Menjadi Putra atau Putri Sekolah adalah memikul tanggung jawab sebagai representasi identitas sekolah. Mereka adalah wajah dari visi misi institusi, sekaligus menjadi jembatan antara aspirasi siswa dan kebijakan sekolah. Tulisan ini akan membawa Anda menelusuri lorong-lorong perjuangan para kandidat, terutama pada titik balik paling krusial: sesi wawancara mendalam yang menguras pikiran dan emosi.

Ajang ini berpijak pada pilar klasik yang tetap relevan hingga kini: Brain (Kecerdasan), Beauty (Penampilan yang menarik dan rapi), serta Behavior (Perilaku). Namun, di era digital 2026 ini, aspek tersebut berkembang. Kecerdasan bukan lagi sekadar nilai matematika di atas kertas, melainkan literasi digital dan kemampuan berpikir kritis. Penampilan bukan soal standar kecantikan fisik, melainkan bagaimana seseorang membawa dirinya dengan percaya diri (personal branding). Dan perilaku adalah tentang empati serta dampak sosial.

Panitia seleksi tidak mencari sosok yang sempurna tanpa cela, melainkan individu yang memiliki "ruang untuk tumbuh." Inilah yang membuat proses seleksi menjadi sangat panjang, mulai dari seleksi administrasi, tes tertulis, hingga puncaknya pada sesi wawancara yang menjadi penentu segalanya.

Senin siang ini, udara di depan ruang kantor terasa lebih dingin dari biasanya. Deretan kursi diisi oleh para kandidat yang tampil sangat rapi. Siswa laki-laki dan perempuan tampak anggun dan gagah dengan rambut yang tertata rapi dan riasan tipis yang natural. Namun, di balik kerapian itu, ada tangan-tangan yang saling bertaut erat, mencoba meredam getaran gugup.

Sesi wawancara adalah "jantung" dari seluruh rangkaian seleksi. Di ruang inilah, topeng-topeng hafalan akan luruh, menyisakan karakter asli sang kandidat. Juri yang dihadirkan bukan sembarangan, mereka adalah guru senior dan guru milenial yang disegani. 

Pertanyaan pertama biasanya terasa hangat: "Ceritakan tentang dirimu yang tidak ada di dalam formulir pendaftaran." Namun, jangan tertipu. Ini adalah teknik untuk melihat sejauh mana seorang kandidat mengenal dirinya sendiri (self-awareness). Banyak yang terjebak dengan menceritakan kembali prestasi yang sudah tertulis, namun kandidat yang unggul adalah mereka yang berani bercerita tentang kegagalan mereka dan bagaimana mereka bangkit darinya.

Pertanyaan dilematis seperti ini sering kali membuat suasana hening sejenak. Di sinilah integritas diuji. Jawaban yang dicari bukan sekadar jawaban "normatif" yang terdengar baik di telinga, melainkan solusi pragmatis yang tetap memegang teguh prinsip etika. Juri mengamati gerak tubuh, kontak mata, dan intonasi suara. Seorang pemimpin harus bisa tetap tenang di bawah tekanan, sebuah kualitas yang sangat dibutuhkan saat nanti mereka harus berhadapan dengan audiens yang lebih besar.

Siswa yang dulunya pendiam dan sering bersembunyi di barisan belakang kelas, tiba-tiba mampu berdiri tegak dan berbicara dengan artikulasi yang jelas di hadapan juri. Perubahan ini adalah kemenangan yang sesungguhnya, jauh sebelum mahkota atau selempang disematkan. Proses ini mengajarkan mereka bahwa keberanian bukan berarti tidak adanya rasa takut, melainkan kemampuan untuk bertindak meskipun rasa takut itu ada.

Setelah melewati fase wawancara yang melelahkan, mereka yang terpilih sebagai finalis akan mengemban tugas berat. Putra Putri Sekolah bukan hanya hadir saat upacara atau menyambut tamu penting. Di era modern, mereka adalah influencer internal. Mereka harus mampu menggerakkan kampanye positif, seperti gerakan literasi, sekolah hijau, atau anti-narkoba.

Mereka menjadi teladan dalam bersikap. Jika seorang Putra Sekolah terlihat membuang sampah sembarangan atau berbicara kasar, maka wibawa ajang ini akan runtuh seketika. Oleh karena itu, beban moral yang mereka bawa jauh lebih berat daripada beban selempang di bahu mereka. Mereka adalah standar hidup bagi siswa-siswi lainnya.

Tentu saja, ajang ini tidak lepas dari kritik. Ada suara-suara sumbang yang mengatakan bahwa ajang ini hanya membuang waktu atau hanya memihak pada mereka yang beruntung secara fisik. Inilah tantangan bagi panitia dan para pemenang untuk membuktikan sebaliknya.

Tulisan ini ingin menegaskan bahwa kecantikan fisik hanyalah pintu masuk, namun karakter dan kontribusilah yang membuat seseorang tetap berada di dalam ruangan tersebut. Melalui proses wawancara yang ketat, warga sekolah dapat melihat bahwa ada proses intelektual yang sangat serius di sana. Tidak ada keberhasilan yang diraih hanya dengan senyuman; ada latihan bicara berjam-jam dan pembentukan mental yang kuat.

Namun, perlu diingat bagi para peserta, bahwa menjadi pemenang bukanlah akhir dari segalanya dan tidak terpilih bukanlah kegagalan. Banyak alumni ajang ini yang meskipun tidak menjadi juara pertama, justru mendapatkan pelajaran berharga yang membawa mereka sukses di perguruan tinggi dan dunia kerja. Kemampuan untuk berkomunikasi, membangun jejaring dan berpikir strategis yang mereka pelajari selama seleksi adalah bekal seumur hidup.

Bagi kalian yang saat ini sedang menunggu hasil wawancara atau bagi kalian yang baru berencana mendaftar tahun depan, ingatlah satu hal: proses ini akan mengubah caramu memandang dirimu sendiri. Kamu akan menyadari bahwa kamu jauh lebih mampu, lebih berani, dan lebih cerdas dari apa yang pernah kamu bayangkan. Mari kita dukung para kandidat kita. Bukan karena mereka yang paling rupawan, tapi karena mereka adalah rekan-rekan kita yang berani melangkah lebih maju untuk membawa nama harum sekolah kita. Selamat kepada para pejuang panggung wawancara, kalian semua adalah pemenang dalam proses pendewasaan ini. SMANDA, BISA!


Komentar

×
Berhasil membuat Komentar
×
Komentar anda masih dalam tahap moderator
1000
Karakter tersisa
Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini